Boyolali, 10 Juli 2024 – Paguyuban Bumi Makmur menerima kunjungan dari mahasiswa Fakultas Dakwah Kampus UIN Salatiga. Kunjungan ini merupakan bagian dari program kerja mahasiswa PMI yang melaksanakan PPL di Serikat Paguyuban Qaryah Thayyibah (SPPQT) Kalibening, Salatiga. Tujuan utama dari kunjungan ini adalah menambah pengalaman dan pemahaman mahasiswa tentang isu-isu terkini dalam bidang hortikultura, serta menjalin relasi dengan anggota petani yang tergabung dalam SPPQT.
Dalam kesempatan ini, Bapak Tono, ketua Paguyuban Bumi Makmur dan petani hortikultura, berbagi pengalaman serta tantangan yang dihadapi dalam budidaya tanaman hortikultura. Paguyuban Bumi Makmur terdiri dari lima kelompok tani, yaitu Kelompok Sri Lestari, Sri Rejeki, Ngudi Makmur, Mawar I, dan Mawar II, dengan masing-masing kelompok terdiri dari 30 anggota. Paguyuban ini memiliki lima green house seluas 200 m2.
Beberapa tanaman hortikultura yang dibudidayakan di antaranya paprika, buncis, tomat, sawi, cabai, dan tembakau. Dari berbagai jenis tanaman tersebut, paprika menjadi komoditas unggulan karena harga jualnya yang tinggi dan permintaan yang stabil, terutama dari perusahaan seperti Pizza Hut. Paguyuban Bumi Makmur telah menjalin kemitraan dengan beberapa cabang Pizza Hut di Solo, Boyolali, Klaten, dan Yogyakarta untuk menyuplai paprika.
Namun, budidaya paprika tidak tanpa hambatan. Tono mengungkapkan bahwa hama trip dan kutu kebo sering menjadi masalah, bahkan pernah menyebabkan gagal panen. Selain itu, masalah air juga menjadi tantangan, mengingat wilayah Cepogo harus membeli air dari dataran rendah yang membutuhkan biaya tambahan.
Meskipun demikian, keikutsertaan dalam Serikat Paguyuban Qaryah Thayyibah memberikan dampak positif bagi para petani hortikultura. Organisasi ini membantu meningkatkan sinergi antarpetani, menciptakan keseimbangan, dan keberlanjutan dalam praktik pertanian mereka.
Selama kunjungan, mahasiswa diajak mengunjungi tiga green house. Green house pertama dalam kondisi siap panen, dengan buah paprika yang lebat dan sebagian sudah memerah. Green house kedua menunjukkan tanaman paprika berusia tiga bulan, yang sudah mulai berbuah namun masih kecil dan hijau. Green house ketiga menampilkan tanaman yang masih kecil, berusia sekitar satu setengah bulan, dan dalam tahap perawatan serta pembesaran.
Menurut Tono, penggunaan tali untuk menambatkan tanaman paprika di green house bertujuan agar tanaman tetap berdiri tegak karena buahnya yang besar sementara pohonnya kecil. Kunjungan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi mahasiswa tentang praktik hortikultura dan tantangan yang dihadapi para petani di lapangan.