22 Jun 2010 00:42 WIB
Penggergajian kayu
Di Krandon Lor, kec. Suruh, Kab Semarang, ada penggergajian kayu. Penggergajian kayu ini milik salah satu pengusaha dari luar desa. Tetapi para pekerjanya ada yang warga dari Krandon Lor. Tempat operasi penggergajian ini di Salah satu dukuh di Krandon Lor. Setiap hari penggergajian kayu ini beroperasi dan banyak mengolah kayu. Selain itu penggergajian ini dulu juga melayani pemilik kayu yang hendak menggergajikan kayunya untuk dijadikan bahan bangunan dan kusen.
Selain penggergajian kayu yang berhenti sebagaimana di sebutkan di atas ada juga penggergajian kayu yang keliling dengan memanfaatkan mobil bekas yang di modifikasi. Penggergajian kayu seperti ini bisa melayani konsumen sampai di kebun-kebun dan tegalan asalkan jalan bisa dilewati. Penggergajian seperti ini memudahkan warga untuk memotong kayu, menggarap dan mengolah kayu mereka sehingga pengerjaan lebih cepat dan lebih murah.
Akan tetapi sebenarnya penggergajian kayu baik yang berhenti apalagi yang bisa bergerak adalah mempercepat bentuk penebangan pohon. Orang bisa dengan cepat menjual, menebang, memotong dan mengolah kayu. Padahal sebatang kayu memerlukan waktu puluhan tahun untuk menjadi sebesar siap tebang. Karena penggergajian adalah bersifat bisnis dan bukan sekedar alat, maka mereka harus tetap operasi agar tetap rugi. Ini akan mempengaruhi percepatan penebangan pohon-pohon dikebun milik warga. Terkadang pemilik penggergajian sengaja pergi ke kebun-kebun penduduk untuk mencari kayu untuk menjamin operasional gergaji. maka kadang warga yang tadinya tidak berniat menjual pohon miliknya karena tergiur harga beli yang tinggi kemudian menjual pohon mereka.
Sehingga keberadaan penggergajian kayu di satu sisi menguntungkan warga karena mudah dalam mengelola, dan menjual kayu mereka dan harga jual pohon kayu menjadi tinggi. Tetapi kemudian merugikan terutama soal lingkungan karena penebangan pohon menjadi lebih sering dan lebih banyak tetapi tidak dibarengi dengan penanaman kembali.
kontributor: [Harapan Makmur]
