28 Aug 2010 00:19 WIB
Kebumen,Banyubiru. Sesuatu yang dilakukan secara bersama – sama atau berjamaah hasilnya akan lebih baik dari pada di lakukan sendiri. Perumpaan orang sholat, apabila sholat di lakukan sendiri maka pahalanya satu (1) tapi apabila di lakukan secara berjamaah maka akan berlipat 27 kali. Salah satunya adalah LSD (lumbung sumber daya) ini di lakuakn secara berjamaah hal ini di lakukan supaya petani lebih bisa produktif, demikian ungkap Mujab dari Qaryah Thayyibah dalam sambutanya disela sela acara buka bersama dalam rangka launching LSD paguyuban petani gunung potro. Sehingga petani perlu di organisir agar supaya menjadi petani yang produktif.
20 Aug 2010 15:14 WIB
“Orang pintar adalah orang yang terus berfikir”, demikian pernyataan Bahrudin, penggelola Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah Kalibening, Tingkir Kota Salatiga. disekolah alternatif ini warga belajar diwajibkan untuk membuat, menyampaikan ide dan gagasan lewat tulisan dalam setiap hari. Karena itu, menghargai pemikiran merupakan hal yang paling penting dari komunitas belajar ini.
14 Aug 2010 15:57 WIB
Cold Sotrage 1,5M nganggur di KSU Gatari Sebuah Cold Storage senilai 1,5 Milyard rupiah mangkrak dan belum terpakai sejak dipasang di KSU Gatari, Januari 2009 sampai kini. Cold Storage tersebut membutuhkan beaya 70 ribu rupiah per jam, terlampau mahal untuk ukuran KSU Gatari. Sebagaimana diketahui cold storage
adalah ruang penyimpanan sayuran/holtikultura dengan fasilitas pendingin udara agar kualitas sayuran tersebut bertahan lama.
untuk menghidupkan cold storage tersebut dibutuhkan listrik sebesar 17.000 watt atau dengan solar seharga 70 ribu rupiah perjam jika menggunakan diesel. Cold Storage itu sendiri berada di dekat kantor KSU Gatari, Dsn jarakan, Ds. Gondangsari, Kec. Pakis, Kab. Magelang.
Cold storage ini merupakan hadiah dari Deptan atas prestasi yang diraih Gatari dalam hal pemasaran produk holtkultura di Kawasan Merbabu. Kapasitasnya 144 meter kubik, setara dengan 30 mobil tangki. Awalnya hadiah dari deptan ini disambut gembira petani anggota Gatari, namun dengan kemampuan operasional yang terbatas fasilitas mahal tersebut nyaris tidak bisa difungsikan.
Disamping itu menurut pengelola KSU Gatari, Sugiarti, 32 tahun, Cold Storage ini tidak akan berfungsi maksimal karena sayuran atau produk holtikultura yang dikelola oleh KSU Gatari masih dalam skala terbatas. Sehingga keuntungan dari hasil penjualan belum mampu menopang untuk mengoperasionalkan colstorage
tersebut.
kendala lainnya, masih menurut Sugiarti, adalah kelancaran transportasi yang memegang peran penting dalam menjaga kualitas produk sayuran. sedangkan penunjang transportasi juga membutuhkan beaya operasional yang tidak
sedikit. Asumsinya adalah Cold Storage itu berpasangan dengan mobil yang coldstorage
juga, sehingga sayuran tetap fresh ketika sampai super market.
13 Aug 2010 14:16 WIB
Sejumlah warga mulai resah karena uang ganti rugi pembebasan tanah yang terkena Proyek pembangunan Micro Hydro (PLTMH) belum dibayar penuh oleh SPPQT, padahal pembangunan bendungan sudah selesai. Microhydro di Desa Kebumen Kabupaten Semarang yang dimulai sejak bulan pebruari 2010 , beberapa waktu lagi sudah bisa dioperasionalkan tinggal menunggu pemasangan kincir penggerak turbin.
Hal ini berawal dari dilaksanakannya pembangunan PLTMH bekerjasama antara IBK dengan SPPQT sebuah organisasi Tani di Jawa tengah yang akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air di Desa Kebumen, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Untuk memasang pipa saluran air dan power house yang menuju ke pusat turbin harus melalui lahan milik warga.
Dari keterangan beberapa warga di Dusun Bendosari, Dermolo, Kebumen menjelaskan bahwa masih ada tiga orang yang belum dibayar penuh ganti rugi pembebasan tanahnya. Warga tersebut adalah bapak Isman Dusun Bendosari Rp 1.100.000,- baru dibayar Rp 300.000,-, Bapak Muhammad Rp 1.700.000,- baru dibayar Rp 300.000,-. Dan belum ada kejelasan kapan penyelesaian pembayaran tersebut akan dilunasi. Hal ini tentu perlu ada penanganan secara serius sehingga pada saat microhydro ini dioperasionalkan sisa-sisa persoalan ini sudah diselesaikan.
Perlu ada klarifikasi lebih lanjut karena pembayaran ganti rugi pada saat itu melibatkan tokoh masyarakat seperti Ketua RT dan satu orang warga yaitu Mustopa. Apabila saat ini ada yang belum dibayar penuh dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan baru bila tidak segera diselesaikan.
Sebelum pembangunan tersebut dimulai beberapa tahap pekerjaaan sebenarnya telah dilakukan, termasuk tahapan sosialisasi dan negosiasi dengan warga masyarakat yang lahannya akan terkena pembangunan. Tujuannya agar ada keterlibatan dari warga yang tinggal di sekitar lokasi pembangunan. Pada saat itu masyarakat secara umum belum mengetahui rencana pembangunan Microhydro, tetapi dari tokoh-tokoh Paguyuban Petani Gunung Potro sebagai anggota SPPQT (Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah) bersama beberapa orang dari jajaran pengurus SPPQT melakukan sosialisasi ke warga dan tokoh masyarakat sekitar untuk memberikan informasi tentang rencana pembangunan microhydro tersebut.
Setelah masyarakat mengetahui bahwa pembangunan tersebut ada jaringan yang harus melalui lahan milik masyarakat mulai muncul kendala-kendala seperti masyarakat minta ganti rugi pembebasan tanah dengan harga yang mahal diatas Rp 100.000,-/m2 sementara harga standart tanah di wilayah itu baru mencapai Rp 60.000,-/m2. Bahkan ada yang minta Rp 500.000/ meter persegi. Akhirnya terjadilah kesepakatan bahwa harga ganti rugi per meternya yaitu Rp 100.000,-/m2.
Dan saat pembangunan dijalankan maka penyerapan tenaga kerjapun disepakati diambil dari warga sekitar kecuali tenaga ahli, termasuk proses pembayaran ganti rugi selalu melibatkan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Akhirnya hal itupun dilaksanakan dan para pekerja dibayar empat puluh ribu rupiah setiap harinya.
Persoalan-persoalan lain yang muncul adalah kesalahan dari tenaga kerja dalam menimbun matrial mengakibatkan salah satu warga mengalami kerugian secara matriil. Seperti bapak Wahyudi (45th) warga Dusun Bendosari kehilangan batu batanya 6000 biji yang dalam proses pembakaran, 8000 biji yang siap dibakar lenyap karena air yang meluap. Meluapnya air diakibatkan saluran air tersumbat tumpukan material yang akan digunakan untuk pembangunan micro hydro. Dari kejadian itu pak Wahyudi menanggung kerugian sebesar Rp 2.700.000,- ditambah dengan dua truk brambut seharga satu juta sehingga total kerugian ada Rp 3.200.000,-. Beliau mengeluhkan tidak adanya perhatian dari SPPQT sebagai penanggung jawab pembangunan yang tidak melakukan tindakan apa-apa atas kejadian yang dialami oleh Bapak Wahyudi .
Ibu Siti Kanah warga Dusun Bendosari merasa dirugikan karena padinya yang sudah siap panen seluas 3mx11 patok, per patoknya 5 m harus dibangun pondasi patok pipa sehingga padinya dibabat, pemilik minta tenggang waktu satu bulan sampai panen tetapi pihak proyek tidak mau, kemudian dijanjikan ganti rugi yang sampai saat ini belum dibayar.
Dalam penjelasan awal saat sosialisasi tanah untuk patok pipa sesuai kesepakatan satu m2 yang harus dibebaskan ternyata yang dibangun satu 1,5 m x 1 m, dan ini warga merasa dirugikan karena pembayaran ganti rugi hanya satu meter.
Sampai saat ini warga masyarakat masih menunggu ada upaya penyelasaian dari SPPQT. Warga mengharap agar SPPQT dan Warga yang bersangkutan untuk duduk bersama menyelesaikan persoalan tersebut. Pertanyaannya adakah niat baik dari masing-masing pihak supaya persoalan ini bisa segera teratasi sehingga pembangunan proyek microhydro tesebut benar-benar bisa dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Tetapi warga setempat berujar sebenarnya apa manfaat yang akan didapat bagi warga sekitar pembangunan.
Penulis : Budi Pramono, Irawan, Suluri, Awwin
KELOMPOK 3 A
10 Aug 2010 23:42 WIB
Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT), dalam kurun waktu dua tahun terakhir semakin mandiri.
Dalam perkembangan organisasi selama sebelas tahun Serikat Paguyuban Qaryah Thayyibah (SPPQT) sebagai organisasi tani mampu membangun organisasi tani yang kuat, tidak lagi mengandalkan funding dari luar guna menjalankan programnya. Semangat keswadayaan yang dimiliki kesekretariatan menjadi kekuatan utama, dalam menggerakkan program-programnya.
Cita-cita kemandirian SPPQT tidak bisa dilepaskan peranan lembaga REMDEC (Jakarta) sebagai lembaga yang mendampingi proses kemandirian SPPQT, baik dari pendidikan penyadaran dan mencarikan dana operasional organisasi. Hal ini tonggak awal SPPQT kiprah dalam menyadarkan pentingnya berorganisasi berbasis pertanian di tahun 1999. Masa ketergantungan dengan pihak luar semakin ditinggalkan SPPQT, sebagai cita-cita bersama anggota SPPQT, beberapa gagasan praktek telah dikerjakan untuk mengusung kemandirian.
SPPQT memiliki tujuan membangun peradaban bangsa berbasis pertanian, peran kesekretariatan SPPQT mendorong gerakan kemandirian, daya dorongan dan dukungan secara moral dan material dalam menjalankan programnya.
Pengelolaan sumber daya desa telah dikelola paguyuban petani, dengan mengedepankan prinsip keadilan bagi semua, program kesekretariatan SPPQT kurun waktu dua tahun setelah menempati sekretariat milik sendiri, ditopang dengan luasan tanah 1 Ha sebagai asset organisasi. Dua tahun terakhir, telah mencapai program ekonomi sesuai target di tahun 2010. SPPQT telah mengembangkan 63 learning center pengembangan ternak di 63 kelompok tani, 20 hektar pengembangan pertanian organik, lahan basah dan kering 6 kelompok tani berbasis padi dan 20 kelompok tani berbasis holtikultura. Dibidang energi, telah membangun 1 unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro beserta 32 unit biogas digester terbangun.
“SPPQT juga melakukan beberapa kegiatan dalam upaya mengelola dan mengontrol sumber daya pertanian dan peternakan sebagai program produktif pertanian, selebihnya telah ada 65 Paguyuban Tani dari 100 anggota SPPQT yang telah melakukan hal tersebut”, ungkap Azis Sulton Abidin (35) (8/8/2010). Kesekretariatan SPPQT berperan penuh dalam membangun kesadaran dalam berfikir, berkreasi, dan berorganisasi untuk kemandirian petani.
SPPQT melalui lembaga KSU dan CV melakukan usaha-usaha produktif ekonomi guna menjawab kebutuhan pupuk, pestisida dan makan ternak bagi petani, maka pengadaan sarana pertanian merupakan alternatif upaya ekonomi yang secepatnya harus ditangani secara serius. Tahun 2011 produk pupuk organik, pakan ternak dan pestisida alami sebagai langkah mewujudkan kemandirian petani, peningkatannya 10% dari tahun sebelumnya. Program lain yang terlaksana LSD (Lumbung Sumber Daya), GTP (Gardu Tani Paguyuban) membantu percepatan kemandirian SPPQT, ini merupakan bentuk upaya ekonomi terwujudnya kemandirian SPPQT.
Kesekretariatan sebagai tempat koordinasi dan konsolidasi perkembangan program yang di lakukan PH (Pimpinan Harian) bersama perangkatnya, setiap senin, KADEP dan staf - stafnya setiap selasa, dan koordinasi bersama setiap rabu. Konsolidasi untuk melihat praktek dan gagasan program SPPQT per minggu, yang di lakukan oleh seluruh pegiat SPPQT. Fungsi yang lain Kesekretariatan digunakan untuk pelatihan program SPPQT, sebagai bentuk peningkatan kesadaran anggota SPPQT.
Pegiat SPPQT (27 orang) menjalankan program sesuai kapasitas dan kemampuan masing – masing, sehingga kemandirian SPPQT dapat di rasakan saat ini. Tercapainya kemandirian SPPQT pengaruhi oleh kinerja pegiat – pegiat SPPQT. /Tarom, Andi,Budi,aziz,
10 Aug 2010 23:32 WIB
pengantar redaksi
Dalam rangka HUT ke 11, SPPQT mengadakan pelatihan jurnalistik. Pelatihan ini diikuti oleh Dewan Pimpinan petani (DPP), Pegiat sekretariat dan lapangan, dan perwakilan dari paguyuban yang mengimplementasikan program Lumbung Sumber Daya (LSD). Secara keseluruhan jumlah peserta mencapai 52 orang di tambah 5 orang santriwan santriwati dari PP Edi Mancoro, tempat pelatihan di laksanakan. Para peserta ini kemudian di bagi menjadi 6 kelompok plus 1 kelompok istimewa para santri. kemudian setiap kelompok di pecah lagi menjadi 2 kelompok kecil.
Bertindak sebagai pemateri/ pelatih adalah Raymond Toruan, Wartawan Senior Kompas dan pernah menjadi Pimpinan Umum The Jakarta Post. Acara berlangsung selama 3 hari, dan peserta mengikuti pelatihan dengan penuh semangat. Peserta kemudian praktek lapangan ke beberapa daerah sebaran anggota SPPQT termasuk ke komunitas belajar alternatif qaryah thayyibah kalibening, Salatiga.
Tulisan hasil liputan para peserta berjumlah 13 tulisan dan akan kami turunkan berturut-turut mulai hari ini.
selamat membaca.
10 Aug 2010 22:59 WIB
"Menulis itu mudah !", itulah pernyataan dari Bapak Raymond Toruan wartawan senior Kompas pada acara pelatihan tulisan jurnalistik di PP. Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, Kab. Semarang pada tanggal 7, 8, 9 Agustus 2010 lalu.
14 Jul 2010 19:41 WIB
Berjalan 3 minggu dari grand opening LSD QT PP Merdeka desa Sumberejo ternyata pelanggan warnet semakin menggembirakan. Hal ini merupakan indikasi bahwa keberadaan LSD semakin mendapatkan perhatian di hati masyarakat desa Sumberejo.
11 Jul 2010 11:31 WIB
Al Barokah 11 Juni 2010- Bermodal sebuah LCD proyektor dari Serikat Paguyuban Petani Qoryah Thoyyibah (SPPQT), MCT (Multy purpose Community Telecenter) Al-Barokah menggelar agenda nonton bareng Piala Dunia 2010.
03 Jul 2010 14:59 WIB
Petani Indonesia ini hidup di dalam negara berbirokrasi yang sungguh keterlaluan. Betapa tidak, potensi lost dari pajak salah satu sektor industri sungguh fantastis. Angka sebesar ini tentu sangat jauh dari sekedar uang rekening gendut jendral polri, atau rekening gayus, dan persoalan lain yang selama ini menyesaki media massa dan elektronik. Pemberitaan media bahkan nyaris sampai pada tahapan seakan selain kasus gayus, kasus susno dan rekening gendut, tidak ada lagi kasus korupsi yang perlu di telesik.