28 Jun 2010 15:39 WIB
Perempuan dan Energi
Kemajuan teknologi telah memberi manfaat bagi manusia, namun itu juga menuntut konsumsi energi yang besar dan terus meningkat. Saat ini di Indonesia masih mengandalkan sumber-sumber energi konvensional yang semakin menyusut. Konsumsi energi untuk rumah tangga di Indonesia masih tinggi, yaitu 40% dari total penggunaan energi (penelitian dari Universitas Gadjah Mada), setelah itu untuk transportasi, industri, dst. Pemanfaatan energi untuk rumah tangga pada umumnya dikelola oleh kaum perempuan seperti untuk memasak, peralatan rumah tangga, dan elektronik.
Perempuan adalah aktor utama dalam penyediaan dan pemanfaatan energi, baik di tingkat perdesaan maupun perkotaan. Mayoritas di daerah perdesaan di Indonesia, yang mana energi komersial seperti listrik tidak terdapat, perempuanlah bertanggungjawab dalam pengadaan dan pemanfaatan energi tradisional seperti kayu bakar. sementara di perkotaan perempuan juga ikut berperan dalam pemilihan peralatan-peralatan energi dan dalam menerapkan sebuah gaya hidup yang efisien energi. Sebagian besar masyarakat pedesaan menggunakan tungku masak tradisional berbahan bakar biomass. Ketika perempuan bertugas untuk mencari dan mengelola bahan bakar. Kegiatan ini tidak dibayar dan tidak diperhitungkan, selalu dianggap sebagai tugas yang terkait gender atau budaya. Masyarakat desa jarang punya peluang untuk beralih ke energi bentuk lain karena alasan ekonomi, letak geografis yang terpencil atau kelangkaan minyak tanah dan gas. Penggunaan tungku biomass tradisional maupun proses mengumpulkan bahan bakar bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Selain itu, mengumpulkan bahan bakar menyita waktu, mengurangi waktu untuk keluarga dan diri sendiri. Disamping itu saat ini karena harga minyak tanah yang semakin mahal membuat perempuan ketika menyalakan tungku kayu bakar banyak yang mengunakan plastic dari sampah dan sisa kain perca untuk membuat api ( Data dari FGD tentang kesehatan di tingkir lor dan Kalibening, Salatiga), padahal kita ketahui bersama plastic dan kain yang terbuat dari nilon atau polimer ketika dibakar akan mengeluarkan racun yang cukup berbahaya karena bersifat karsinogen/ pemicu kanker.
Sementara meskipun telah ada kebijakan konversi gas oleh pemerintah oleh sebagian masyarakat desa yang umumnya bekerja sebagai buruh tani dan petani gurem masih dianggap mahal. Seperti ungkapan ibu- ibu dari kab. Semarang yang menyampaikan mahalnya gas ,karena sekali beli minimal 3 kg dan tidak bisa dicici l(dibeli sedikit-sedikit) sementara penghasilannya yang hanya sebagai buruh tani tidak cukup untuk membelinya.
Demikian juga terkait dengan bahaya yang ditimbulkan, karena beberapa kali terjadi gas meledak maka ibu-ibu di pedesaan enggan untuk memakainya, selain juga karena tidak familiar dengan penggunaan kompor gas tersebut. Dan keluhan lain terkait dengan konversi gas adalah bahan/ kompor yang mudah rusak dan tidak tahan lama (bahan kompor bukan bahan yang berkualitas baik).
Dengan menyadari bahwa perempuan mempunyai peran yang cukup penting dalam pengelolaan energi, sebaiknya perempuan terlibat dalam seluruh proses pembuatan kebijakan-kebijakan energi, program-program dan proyek-proyek, termasuk dalam pengadaan dan pemanfaatan energi. Hal tersebut sebaiknya dicermati bahwa peran khusus perempuan dalam pengadaan dan pemanfaatan energi muncul dari berbagai macam karakteristik lokal dan sosial seperti pembagian tugas, peran, kewajiban-kewajiban dan hubungan antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat.
Masalah-Masalah Utama perempuan dan Energi
1. Akses ke energi yang rendah, khususnya di pedesaan
2. Masalah kesehatan sehubungan dengan penggunaan teknologi tradisional—misalnya polusi dalam ruangan dan penyakit- penyakit yang timbul.
3. Kurangnya pelatihan pemberdayaan perempuan di sektor energi.
4. Kurangnya kebijakan pemerintah yang peka gender atau memungkinkan suara perempuan didengar saat membuat keputusan.
5. Kurang data tentang gender dalam hal sains & teknologi maupun energi.
Hal tersebut diatas bisa menjadi bahan perenungan bersama untuk kemudian memberikan solusi yang tepat bagi kita semua terutama perempuan.
Perempuan adalah aktor utama dalam penyediaan dan pemanfaatan energi, baik di tingkat perdesaan maupun perkotaan. Mayoritas di daerah perdesaan di Indonesia, yang mana energi komersial seperti listrik tidak terdapat, perempuanlah bertanggungjawab dalam pengadaan dan pemanfaatan energi tradisional seperti kayu bakar. sementara di perkotaan perempuan juga ikut berperan dalam pemilihan peralatan-peralatan energi dan dalam menerapkan sebuah gaya hidup yang efisien energi. Sebagian besar masyarakat pedesaan menggunakan tungku masak tradisional berbahan bakar biomass. Ketika perempuan bertugas untuk mencari dan mengelola bahan bakar. Kegiatan ini tidak dibayar dan tidak diperhitungkan, selalu dianggap sebagai tugas yang terkait gender atau budaya. Masyarakat desa jarang punya peluang untuk beralih ke energi bentuk lain karena alasan ekonomi, letak geografis yang terpencil atau kelangkaan minyak tanah dan gas. Penggunaan tungku biomass tradisional maupun proses mengumpulkan bahan bakar bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Selain itu, mengumpulkan bahan bakar menyita waktu, mengurangi waktu untuk keluarga dan diri sendiri. Disamping itu saat ini karena harga minyak tanah yang semakin mahal membuat perempuan ketika menyalakan tungku kayu bakar banyak yang mengunakan plastic dari sampah dan sisa kain perca untuk membuat api ( Data dari FGD tentang kesehatan di tingkir lor dan Kalibening, Salatiga), padahal kita ketahui bersama plastic dan kain yang terbuat dari nilon atau polimer ketika dibakar akan mengeluarkan racun yang cukup berbahaya karena bersifat karsinogen/ pemicu kanker.
Sementara meskipun telah ada kebijakan konversi gas oleh pemerintah oleh sebagian masyarakat desa yang umumnya bekerja sebagai buruh tani dan petani gurem masih dianggap mahal. Seperti ungkapan ibu- ibu dari kab. Semarang yang menyampaikan mahalnya gas ,karena sekali beli minimal 3 kg dan tidak bisa dicici l(dibeli sedikit-sedikit) sementara penghasilannya yang hanya sebagai buruh tani tidak cukup untuk membelinya.
Demikian juga terkait dengan bahaya yang ditimbulkan, karena beberapa kali terjadi gas meledak maka ibu-ibu di pedesaan enggan untuk memakainya, selain juga karena tidak familiar dengan penggunaan kompor gas tersebut. Dan keluhan lain terkait dengan konversi gas adalah bahan/ kompor yang mudah rusak dan tidak tahan lama (bahan kompor bukan bahan yang berkualitas baik).
Dengan menyadari bahwa perempuan mempunyai peran yang cukup penting dalam pengelolaan energi, sebaiknya perempuan terlibat dalam seluruh proses pembuatan kebijakan-kebijakan energi, program-program dan proyek-proyek, termasuk dalam pengadaan dan pemanfaatan energi. Hal tersebut sebaiknya dicermati bahwa peran khusus perempuan dalam pengadaan dan pemanfaatan energi muncul dari berbagai macam karakteristik lokal dan sosial seperti pembagian tugas, peran, kewajiban-kewajiban dan hubungan antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat.
Masalah-Masalah Utama perempuan dan Energi
1. Akses ke energi yang rendah, khususnya di pedesaan
2. Masalah kesehatan sehubungan dengan penggunaan teknologi tradisional—misalnya polusi dalam ruangan dan penyakit- penyakit yang timbul.
3. Kurangnya pelatihan pemberdayaan perempuan di sektor energi.
4. Kurangnya kebijakan pemerintah yang peka gender atau memungkinkan suara perempuan didengar saat membuat keputusan.
5. Kurang data tentang gender dalam hal sains & teknologi maupun energi.
Hal tersebut diatas bisa menjadi bahan perenungan bersama untuk kemudian memberikan solusi yang tepat bagi kita semua terutama perempuan.
kontributor: [Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah]
